Breakout [Chapter 1]

Title     : Breakout – Chapter 1

Author : Haru Minami

Cast     : Kai, Sehun, Luhan, D.O and others

Genre  : Mystery, Friendship, Crime etc

Rating : T

Warning  : OOC, Typo(s) etc

>>>

Namanya Kim Jongin. Biasa dipanggil Kai. Namja berkulit tan tersebut hanya namja biasa, tak lebih daripada seorang mahasiswa. Hari-harinya biasa, tak ada yang istimewa.

Namun, hari ini akan mengubah hidupnya.

Hari ini, tepatnya malam ini, ia tengah berjalan menuju rumahnya bersama Lay, sahabatnya. Mereka berbincang-bincang tanpa menghiraukan apapun. Tak menghiraukan dinginnya malam, tak menghiraukan ramainya jalanan di sekitar mereka.

Hingga akhirnya mereka harus berpisah di sebuah pertigaan yang sepi. Kai melambaikan tangannya, senyum terlukis di wajahnya. Begitu juga Lay. Setelah itu, Kai berbalik untuk melanjutkan perjalanannya.

“ARGHH!!…”

Suara teriakan Lay sontak membuat langkah Kai terhenti. Refleks, Kai menoleh untuk mengetahui apa yang terjadi pada Lay. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Lay kini terbaring bersimbah darah. Jangan lupakan terdapat seseorang yang berlari menjauh dari mereka.

“LAY!!!” seru Kai, beberapa detik setelah ia benar-benar mencerna apa yang terjadi. Ia berlari menuju Lay yang tetap terbaring bersimbah darah itu.

“LAY!…..IREONNA!!…” seru Kai histeris. Ia menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu, namun tetap tak ada reaksi dari Lay. Hingga Kai menyadari Lay sudah tak bernafas lagi, Kai langsung terdiam layaknya orang gila.

Kai menatap jalanan tempat orang yang berlari menjauh dari mereka tadi dengan tatapan kosong. Ia masih sangat shock dengan semua ini. Ia masih belum bisa mempercayai semua ini. Ia bahkan tak menyadari polisi dan ambulans telah datang.

“Tuan, gwenchanayo?”

>>>

BRAKK

“Aniya!… Aku tidak membunuhnya!… Dia sahabatku, mana mungkin aku membunuhnya?”

Kai benar-benar tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia tidak terima ia dituduh membunuh Lay, sahabatnya sendiri. Sampai-sampai kini ia menggebrak meja interogasi.

“Mianhae, Jongin-ssi. Bukti-bukti ini cukup kuat. Lagipula, walaupun kau adalah sahabatnya, kau tetap manusia yang bisa berkhianat.” ucap sang detektif yang duduk tepat di depan Kai.

“Bukti apa yang kau punya, hah?!” seru Kai.

“Di tempat kejadian, kami menemukan sebuah pisau dengan sidik jarimu menempel disana.” jelas sang detektif, “Lagipula, saksi mata mengatakan bahwa ia hanya melihatmu dan Lay-ssi disana.”

“Saksi mata?… Nugu?…” batin Kai, “Seingatku disana hanya ada aku, Lay dan…si pelaku.”

“Apa lagi yang kalian tunggu?” tanya sang detektif kepada kedua rekannya, “Cepat tahan dia!…”

“Ne!…” balas kedua rekannya itu serempak.

Kai membulatkan matanya, “Y-YAK!… Lepas!… Bukan aku pelakunya!….”

>>>

“Hei, ada tahanan baru!….”

“Selamat datang di istanamu, tuan putri!…”

“Hahahaha….”

Suasana penjara yang awalnya sepi itu kini menjadi ramai saat para tahanan mengetahui penjara mereka kedatangan tahanan baru. Anggap saja para tahanan itu sedang menyambut si tahanan baru yang tengah digiring ke selnya.

“Masuk!…” perintah si petugas pada tahanan baru itu sembari mendorongnya ke sel.

“Yak!!” protes Kai –si tahanan baru- .

Sebelum pergi, petugas itu tersenyum kecil pada Kai, “Sampai jumpa, pembunuh.”

“YAKK!!… Aku bukan pembunuh!!…” protes Kai kesal.

“Diamlah!… Dasar berisik.”

Kai menoleh ke sumber suara. Ia baru saja menyadari bahwa ia tak sendirian di sel ini. Namja pemilik suara itu menatap Kai tajam.

“Mian.” ucap Kai. Namja itu tersenyum.

“Hm. Gwenchana.” balas namja itu. Kai membalas senyuman namja itu kikuk, kemudian duduk di salah satu kasur.

“Jeoneun Sehun imnida.” kata namja itu tiba-tiba, “Siapa namamu?”

“Eh?… Jeoneun Kai imnida.” balas Kai, ikut memperkenalkan diri, “Annyeong Sehun-ssi.”

Sehun –namja itu- terkekeh, “Nado annyeong. Semoga kau betah disini.”

“Mwoya?… Betah?… Kau pasti bercanda.” celetuk Kai, “Bagaimana aku bisa betah?…Aissh, lagipula seharusnya tempatku bukan disini.”

“Lalu, seharusnya dimana tempatmu?” tanya Sehun. Tampaknya ia mulai tertarik dengan teman satu sel-nya itu.

“Tentu saja di universitas.” jawab Kai, “Aku sama sekali bukan penjahat, apalagi pembunuh.”

“Bukan penjahat?…” ulang Sehun, “Kalau begitu, kenapa kau dipenjara?”

“Sepertinya aku dijebak.” jelas Kai, “Aku dituduh membunuh sahabatku sendiri. Cih, apa polisi-polisi itu berpikir aku tak punya perasaan?…”

“Kalau begitu, kita sama.” celetuk Sehun.

Kai menaikkan sebelah alisnya, “Kau… juga dijebak?”

“Ne. Aku dituduh melakukan sejumlah transaksi narkoba.” terang Sehun, “Aneh sekali. Melihat narkoba secara langsung saja aku tidak pernah.”

“Lagipula, jika dipikir-pikir wajahmu juga bukan wajah seorang penjahat.” komentar Kai, “Yah, sekarang apa yang harus kita lakukan?…”

“Kita kabur saja.”

Kai terdiam seketika saat mendengar ucapan Sehun. Sedetik kemudian, ia tertawa.

“Kau lucu sekali. Hahahaha…” ucap Kai. Sehun memutar bola matanya.

“Aku serius, Kai.” balas Sehun.

Kai menghentikan tawanya, “Kau serius?…”

Sehun mengangguk pasti. Kai menghela nafas.

“Kau gila?… Kau mau kabur?” tanya Kai.

Sehun tersenyum, “Aku tak punya pilihan lain. Bukankah kau juga sama denganku?… Jika kita keluar dari sini, mungkin kita bisa menemukan orang yang menjebak kita.”

“Otakmu pasti benar-benar rusak.” lirih Kai.

“Aku mendengarmu.” sindir Sehun.

“Arra, arra. Aku ikut denganmu.” balas Kai akhirnya, “Jadi, apa rencanamu?”

>>>

Kabur dari penjara ini sangat sulit. Penjara ini memiliki pengamanan yang ketat. Para tahanan dikurung 24 jam di sel mereka. Kalaupun para tahanan itu berhasil kabur, mereka harus melewati pagar kawat tinggi yang mengelilingi penjara.

Jika tahanan itu berhasil melewati pagar kawat itu, artinya ia telah keluar dari penjara. Namun, itu bukan berarti rintangan yang dihadapai telah habis. Penjara ini terletak di sebuah pulau kecil yang terpencil.

Jadi, rintangan yang harus dilalui Kai dan Sehun sangat banyak.

Rencana ini bisa dibilang… mustahil untuk dilakukan.

>>>

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kai.

“Aku sedang berpikir.” balas Sehun sekenanya, “Satu-satunya jalan keluar kita adalah melewati jendela itu. Tetapi… jendela itu memiliki jeruji dari besi yang sulit dipotong.”

“Hmpfh. Kalaupun jendela itu mudah dipotong, memangnya kau mau memotongnya memakai apa?” ledek Kai, “Dengar. Ada banyak masalah disini.”

“Ah, aku tahu!” seru Sehun riang, “Ada salah seorang petugas yang sering menyelundupkan barang. Asalkan kita punya uang, kita bisa meminta petugas itu menyelundupkan gergaji untuk kita!…Eotte?”

“Lalu, kita akan memotong jeruji jendela itu dengan gergaji.” sambung Kai, “Kau pasti gila. Bagaimana jika ada petugas yang melihat kita?”

“Karena itulah, kita harus berjaga-jaga.” jelas Sehun, “Saat salah satu dari kita akan memotong jeruji jendela itu, dan satunya lagi berjaga-jaga.”

“Arra, arra.” tanggap Kai, “Apa kau punya uang?”

“Tentu saja.” balas Sehun, “Kalau aku tidak punya uang, mana mungkin aku membuat rencana ini. Tunggu saja, sebentar lagi kita akan keluar.”

Kai menghela nafas. Jika dipikir-pikir, aneh  jika Kai bisa langsung mempercayai Sehun yang baru saja dikenalnya. Tetapi, entah mengapa Kai sangat mempercayainya.

To Be Continued.

Advertisements

11 thoughts on “Breakout [Chapter 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s