A Promise

Tittle : A Promise

Author : Haru Minami

Cast : Jo Twins

Genre : Brothership, Family, Angst etc

Length : Oneshoot

Rating : T

Warning : Typo(s), OOC, etc

Note : Berhubung Ordinary Love belum selesai, jadi post ini dulu ya.

>>>

 

[ Youngmin POV ]

24 April 2013

“Kwangmin-ah…”

Entah sudah berapa kali aku memanggil nama itu. Namun, tetap saja tidak ada yang terjadi. Suasana di tempatku berpijak masih  tetap sunyi. Angin semilir membelai rambutku. Kupejamkan mataku, berusaha melupakan semua bebanku.

Tidak bisa. Rasanya, beban yang kupikul malah semakin berat.

“Kwangmin-ah…” panggilku lagi, kali ini sambil menatap gundukan tanah di depanku, “Kwangmin-ah… Mengapa saat hyung sudah bisa menepati janji, kau malah pergi?”

Kini kakiku terasa lemas, sampai akhirnya aku terduduk. Kubiarkan air mata membasahi pipiku. Terlihat cengeng, namun aku tidak peduli.

Yang kuinginkan hanya… bersama Kwangmin.

24 April 2007

“Saengil chukka hamnida, Kwangmin-ah!!…” seruku riang sambil menghampiri Kwangmin, saudara kembarku yang tengah bermain.

“Ah,… Youngmin hyung. Saengil chukka hamnida.” balasnya, “Hyung, apa hadiahku darimu?”

“Dasar anak ini…” celetukku gemas sambil mengacak rambutnya, kemudian menyerahkan sebuah bantal pikachu padanya, “Ini, untukmu.”

“Woah~ Pikachu!!…” seru Kwangmin, “Hyung, jeongmal gomawoyo.”

“Cheonma.” balasku, “Err… Kwangmin-ah. Apa kau tidak punya hadiah untuk hyung?”

“Mianhae, hyung…” ucapnya, wajahnya terlihat benar-benar menyesal.

“Gwenchana kalau kau tidak punya hadiah untuk hyung.” balasku.

“Aku punya kok, hyung… Hehehe…” sela Kwangmin sambil menyerahkan sebuah topi kepadaku, “Ini dia~”

“Bagus sekali…. Gomawo, Kwangmin-ah…” pujiku.

“Cheonma~ Oh ya, hyung. Topi itu mahal sekali, jadi hyung harus menjaganya baik-baik!…” ucap Kwangmin seolah memberi nasihat. Aku tertawa.

“Arasseo.” balasku.

Setelah itu, aku dan Kwangmin bermain bersama. Rasanya menyenangkan sekali. Namun, tiba-tiba appa dan eomma datang menghampiri kami.

“Annyeong, appa, eomma.” sapaku dan Kwangmin bersamaan.

“Appa, eomma… Kalian punya hadiah apa untuk kami?” tanyaku. Appa dan eomma berpandangan sejenak.

“Soal itu…Kita bahas lain kali. Ada hal penting yang ingin appa dan eomma bicarakan.” balas appa.

“Apa itu?… ” tanya Kwangmin.

“Sebenarnya,… Appa dan eomma sudah bercerai.” jelas appa, “Kami berusaha untuk bertahan demi kalian. Tetapi… Kini kami tidak tahan lagi.”

Aku dan Kwangmin saling berpandangan.

“M-mwo?… Bercerai?…” ulang Kwangmin. Dapat kulihat airmata telah menggenangi pelupuk matanya.

“Ne, Kwangmin-ah. Mianhae…” balas eomma.

“Satu lagi… Mulai sekarang, appa dan Youngmin akan pindah ke London.” terang appa. Aku membulatkan mataku.

“Pindah ke London?… Hanya aku dan appa?…Lalu..Eomma dan Kwangmin…” aku tak sanggup lagi melanjutkan kata-kataku. Aku mengusap air mataku.

“Apa itu artinya… Aku akan terpisah dari Youngmin hyung?” tanya Kwangmin.

“Ne…Mianhae, Kwangmin-ah.” balas appa, “Youngmin-ah, ayo kita pergi. Barang-barangmu sudah beres, jadi kita bisa langsung pergi ke bandara.”

“Sirheo!!…” teriakku, “Aku tidak mau pergi!!…”

“Youngmin-ah, aku mengerti perasaaanmu. Tapi kita harus pergi sekarang.” balas appa.

“Jika appa mengerti perasaanku, appa tidak akan memisahkanku dari Kwangmin!” seruku.

“Anak ini…” gerutu appa, kemudian menarikku menuju mobilnya. Aku berusaha melepaskan diri, namun gagal. Dan, kini aku hanya bisa diam. Diam, memandangi Kwangmin yang menangis dan berusaha mengejarku.

“HYUNG!!…” teriaknya, “BERJANJILAH PADAKU, KAU AKAN MENEMUIKU NANTI!!”

“…” aku terdiam sebentar, “Ne!…Hyung berjanji!!”

22 April 2013

Kutatap jalanan London yang tengah ramai dari jendela apartemenku dan appa. Aku menghela nafas, kemudian menghempaskan diriku ke kasur. Hari-hariku kini terasa membosankan.

Sudah 6 tahun aku tidak bertemu dengan Kwangmin. Bagaimana kabarnya di Seoul?… Entahlah, aku tidak tahu. Appa tidak pernah mengijinkanku pulang ke Seoul. Bahkan appa juga tidak mengijinkanku menghubungi eomma dan Kwangmin.

Kuambil topi pemberian Kwangmin yang terletak di sebelah tempat tidurku. Sesuai permintaan Kwangmin, aku menjaga topi ini baik-baik. Sebagai hyung yang baik, aku selalu memenuhi semua permintaannya.

Namun, aku merasa gagal menjadi seorang hyung bagi Kwangmin… Karena aku belum bisa menepati janjiku untuk menemuinya.

“Kwangmin-ah… Hyung akan mencari cara agar bisa menemuimu.” lirihku, entah pada siapa.

“Youngmin-ah, boleh appa masuk?…” terdengar suara appa dari luar kamarku. Aku beranjak berdiri dan membuka pintu kamarku.

“Waeyo, appa?” tanyaku.

“Youngmin-ah,… Dari kemarin kau belum makan. Cepatlah makan,… Appa sangat mengkhawatirkanmu, kau tahu. Kini tubuhmu kurus sekali.” ucap ayahku.

“Appa… Kau mengkhawatirkanku?…” tanyaku lagi sambil tersenyum  tipis.

“Tentu saja, karena kau adalah anak appa.” jawab appa.

“Apa kau tidak mengkhawatirkan Kwangmin?… Bukankah Kwangmin juga adalah anak appa?…” tanyaku lagi.

“Youngmin-ah, jangan bahas masalah itu lagi.” ucap appa.

“Appa, bagaimanapun… Kwangmin juga anak appa. Mengapa aku tidak boleh menemuinya?… Apa salahku?… Apa salah Kwangmin?…” tanyaku bertubi-tubi.

“Cukup. Kalau kau tidak mau makan juga tidak apa-apa.” balas appa, kemudian pergi meninggalkanku. Aku tersenyum pahit, sembari menahan tangisku.

23 April 2013

TOK… TOK… TOK…

Seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku bergegas menuruni tangga sambil menguap, lalu membukakan pintu. Kutatap namja yang tengah berdiri di depanku. Rasanya, namja itu terlihat familiar. Tapi… Siapa dia?

“Are you… Jo Youngmin?…” tanyanya.

“Yes, i’m Youngmin.” balasku, “Who are you?”

“I’m Minwoo. Your neighbour in Seoul. Do you remember?…” ia balik bertanya. Aku berusaha mengingat-ingatnya. Ah, aku ingat.

“Minwoo,… Sudah lama kita tidak bertemu.” ucapku, “Waeyo?…”

“Kwangmin kecelakaan.” jelasnya langsung to the point, “Kau harus kembali ke Seoul sekarang. Aku sudah memesan tiket pesawat.”

Tak butuh waktu lama bagi otakku untuk mencerna perkataannya. Aku langsung menarik lengannya, berlari untuk mencari taksi.

“Jo Youngmin!… Kau mau kemana?!” seru appa. Aku tidak menjawab. Aku menyetop taksi dan bergegas memasuki taksi tersebut bersama Minwoo.

“Take me to the airport.” ucapku. Supir taksi itu mengangguk, dan taksi yang kami tumpangi pun mulai melaju. Aku mulai menghela nafas lega.

“Cha, cha kkedatgetjyo… Wae ireoke ganneunji…” ponselku berbunyi, menandakan ada telepon. Saat kubaca nama si penelpon…. aku ragu-ragu untuk mengangkat teleponnya atau tidak.

“Hyung, angkat saja. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada appamu.” usul Minwoo yang juga membaca nama si penelpon, yaitu appaku. Aku tersenyum kecil, dan menerima telepon.

“Yeoboseyeo…” sapaku.

“Jo Youngmin!!… Apa yang akan kau lakukan, hah?!” seru appa di seberang sana.

“Dengar, appa. Kwangmin kecelakaan. Aku harus menemuinya.” jelasku.

“Lalu, jika anak itu kecelakaan… memangnya kenapa?…. Youngmin, pulang sekarang juga!!”

“Shirheo!!…” seruku, “Appa memang tidak menganggap Kwangmin sebagai anak appa lagi. Tapi aku tetap menganggap Kwangmin sebagai adikku!!”

“JO YOUNGMIN!!… Kau ja-….”

KLIK. Kuputuskan sambungan telepon secara sepihak.

“Jadi, bagaimana?” tanya Minwoo. Aku memutar bola mataku bosan.

“Sudah kuduga. Appamu sepertinya memang tidak peduli lagi dengan Kwangmin.” celetuk Minwoo, “Oh ya… Kita harus cepat. Sebentar lagi pesawatnya berangkat.”

>>>

@Hakwon Hospital

Aku berlari sekencang-kencangnya di koridor rumah sakit. Tak kupedulikan tatapan ‘aneh’ orag-orang ke arahku. Dipikiranku hanya ada Kwangmin, Kwangmin dan Kwangmin. Kubuka ruangan tempat Kwangmin dirawat.

Kwangmin. Akhirnya setelah 6 tahun aku bertemu dengan saudara kembarku itu.

Tetapi, kini kondisinya benar-benar berbeda.

Wajahnya yang biasanya ceria, kini tanpa ekspresi. Kulitnya putih pucat dan dipenuhi luka. Dia yang biasanya hyperaktif, kini terbaring lemas di ranjang.

“Kwangmin-ah….” panggilku sambil berjalan mendekatinya. Perlahan, ia membuka kelopak matanya dan tersenyum.

“Hyung, kau datang lagi ke mimpiku….” lirihnya.

Aku memeluknya, “Kau tidak bermimpi, Kwangmin-ah… Ini hyung….”

“Jinjja?…” tanyanya polos, “Jeongmal bogoshipoyo, hyung…”

“Nado….” balasku. Tanpa bisa kucegah, airmata membasahi pipiku. Kueratkan pelukanku, seakan tak ingin berpisah dengannya lagi.

“Kwangmin-ah, kau masih ingat dengan ini kan?…” tanyaku sembari menyodorkan sebuah topi yang dulu ia berikan padaku. Kwangmin tertawa kecil.

“Hyung, kau masih menyimpannya….” balas Kwangmin, “Aku juga masih menyimpan bantal pikachu pemberianmu, hyung.”

“Woah, gomawo sudah menyimpannya,….” ucapku sambil mengacak rambut Kwangmin, “Emm… Kenapa kau bisa kecelakaan?…. Hyung sangat kaget saat mendengar kau kecelakaan..”

“Ceritanya panjang, hyung. Panjaaaaang…. sekali.” tutur Kwangmin, “Hehehe, aku malas menceritakannya hyung.”

“Gwenchana. Tapi, lain kali kau harus berhati-hati.” balasku, “Dengar, apapun yang terjadi… Aku ingin kita tetap bersama. 6 tahun itu sangat lama, kau tahu?”

“….Arra.” Kwangmin terkekeh, “Hyung, aku ingin tidur…. Apa hyung tidak ingin tidur?”

“Kau tidur saja duluan.” ucapku. Kwangmin tersenyum, kemudian menutup kelopak matanya. Kuelus rambut lurusnya itu. Haah… Rasanya sudah lama aku tidak mengelus rambutnya. Tak lama, aku menyusulnya ke alam mimpi.

>>>

Dimana aku?….

 

Tempat apa ini?….

 

Kutatap sekelilingku. Ahh, ini jalan di dekat Incheon Airport. Tapi… mengapa aku ada disini?

“KWANGMIN-AH!!”

Kutolehkan kepalaku dan mendapati saudara kembarku tengah berlari karena dikejar beberapa orang yang tak kukenal. Saat kuperhatikan baik-baik, ternyata eommaku juga ikut mengejar. Mungkin orang-orang tadi adalah orang-orang suruhan eommaku.

Mengapa Kwangmin terlihat masih sehat?… Mengapa ia dikejar orang-orang suruhan eommaku?

“KWANGMIN-AH!!…. Berhenti!!….” jerit eomma.

“Shirheo!!… Aku ingin bertemu Youngmin hyung!!…” seru Kwangmin sambil terus berlari.

“Kwangmin-ah!!… Kita bicarakan dulu baik-baik!!…” teriak eomma.

“Berapa kali eomma bilang begitu, tapi tetap saja aku tak bertemu Youngmin hyung!!…” balas Kwangmin, “Biar aku saja yang langsung menemuinya!!…”

Kwangmin yang terbawa emosi tanpa ba-bi-bu lagi langsung menyeberangi jalan. Mengabaikan teriakan eomma dan klakson mobil.

“KWANGMIN-AH, AWAS!!…” seruku.

CKIIITT….BRAKKK!!!

Kwangmin ambruk dengan bersimbah darah. Si pengemudi mobil kabur entah kemana. Aku terpaku. Aku tak bisa bergerak, entah mengapa….

>>>

“Kwangmin!!…” seruku. Kutatap sekelilingku, ternyata aku berada di ruangan Kwangmin dirawat. Jam dinding menunjukkan pukul 12.00. Aku hanya bermimpi.

Bermimpi, namun terasa benar-benar nyata.

Mungkinkah Kwangmin memang kecelakaan karena berusaha menemuiku?

24 April 2013

Kupikir, pagi ini akan menjadi awal pagi yang paling membahagiakan dalam hidupku.

Tapi, aku salah. Ani, aku benar-benar salah.

Kwangmin telah tidur untuk selamanya. Kelopak matanya tak akan terbuka lagi. Tak ada hembusan nafas dan bunyi detakan jantung darinya. Suhu tubuhnya mendingin. Kulitnya semakin pucat.

Kwangmin telah tiada. Di hari ulang tahun kami berdua.

Ruangan putih tempat Kwangmin dirawat yang semula sepi kini telah ramai. Isak tangis terdengar jelas di ruangan ini. Eomma bahkan menangis meraung-raung.

Sedangkan aku?… Aku tidak menangis. Aku sudah tidak dapat menangis lagi. Memang terdengar cengeng, namun itu kenyataannnya.

Bukankah Kwangmin benar-benar tega?

Sehari setelah pertemuan kami, ia malah pergi. Apa ini hukuman untukku karena menjadi hyung yang buruk baginya?

Ani, mungkin aku tak layak disebut sebagai hyungnya. Aku telah berjanji padanya untuk menemuinya, namun aku baru bisa menepati janjiku 6 tahun kemudian.

Kwangmin, jeongmal mianhae….

>>>

Eomma tampaknya benar-benar terpukul. Ia bahkan memutuskan untuk memakamkan Kwangmin hari ini juga, karena ia tak sanggup lagi menatap wajah Kwangmin.

Di pemakaman Kwangmin, appa tidak datang. Mungkin Minwoo benar, appa memang tidak menganggap Kwangmin sebagai anaknya lagi.

ZRASSSHHH….

Hujan turun lebat. Aku sengaja tidak memakai payung, kubiarkan tubuhku basah diguyur air hujan. Kudongakkan kepalaku, membuat airmataku bercampur dengan air hujan.

Lihat, Kwangmin-ah,…. Bahkan langit ikut menangisimu.

Pemakaman mulai sepi. Yang tersisa hanyalah eomma, aku dan Minwoo.

Tiba-tiba, kakiku melemas, seakan tak dapat menopang tubuhku lagi. Aku terduduk, bersimpuh di depan makam Kwangmin.

“Kwangmin-ah… Kau tega…” lirihku, “Kemarin hyung sudah bilang kan, apapun yang terjadi… Kita harus selalu bersama!…”

“Kalau begitu, ikutlah denganku.”

Apa aku tidak salah dengar?

Tadi itu…seperti suara Kwangmin…

“Hyung, ikutlah denganku.” ucap Kwangmin yang entah sejak kapan telah berdiri di depanku. Ia menyodorkan tangannya.

“Kemana?” tanyaku.

“Ke suatu tempat, dimana kita akan bersama. Tanpa appa dan eomma yang menghalangi kita.” balas Kwangmin, “Tempat yang membuat orang bahagia.”

Kugenggam tangannya, “Aku ikut.”

Kwangmin tersenyum kecil, tangannya membimbingku keluar dari pemakaman. Tiba-tiba, ia berhenti.

“Kenapa berhenti?” tanyaku. Ia tidak menjawab, hanya tetap tersenyum seperti biasa.

“Youngmin-ah! Minggir!!” teriakan eomma dan Minwoo mengalun di telingaku. Mingggir? Apa maksudnya?

TIIIN!!

Suara klakson mobil menyadarkanku. Kupejamkan mataku, pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

CKIIT… BRAKK!!

“Hyung…”

Suara Kwangmin kembali terdengar. Kubuka mataku perlahan. Aku masih hidup? Bagaimana bisa?

“Hyung? Waeyo?…” tanya Kwangmin polos. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Masih di tempat tadi, namun kini banyak orang berkerumun. Sepertinya terjadi kecelakaan. Kuputuskan untuk berjalan ke kerumunan tersebut.

Tunggu. Mengapa tubuhku berada disana?… Lalu, aku ini…

“Hyung, kau sudah mati…” jelas Kwangmin, “Sama sepertiku.”

“Aku sudah mati?” tanyaku.

Kwangmin kembali menyodorkan tangannya, “Bukankah kini kita bisa bersama?”

Aku terdiam. Tapi Kwangmin benar. Kugenggam tangannya.

“Ayo kita pergi.” ajakku dan Kwangminpun mengangguk.

Akhirnya… Kami bersama, bukan?

>>>

The End

>>>

RCL juseyo 😀

Advertisements

5 thoughts on “A Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s